Sabtu, 02 Mei 2015

Cinta dan Perkawinan




   Definisi perkawinan menurut Atwater(2005), menurutnya : Marriage is the state of being married, usually the legal union of two people.
Dalam definisi tersebut, perkawinan dinyatakan sebagai bersatunya secara hukum antara dua orang. Di Indonesia, perkawinan dijabarkan dalam UU No. 1 tahun 1974. Jadi bisa ditarik kesimpulan, bahwa sebuah perkawinan pada dasarnya adalah hubungan yang relatif permanen antara pria dan wanita, yang diakui secara hukum dan social dan melegimitasi hubungan seksual antar keduanya, dan menetapkan pembagian tugas antar pasangan dalam berbagai aspek yang termasuk dalam mengasuh anak dan ekonomi agar tercapainya suatu keluarga yang bahagia. Tujuan perkawinan secara garis besar untuk membentuk suatu keluarga dan bersifat selama-lamanya atau kekal.



   A.   Memilih pasangan
    
   Bagaimana dalam memilih pasangan ? ada beberapa hal yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut yaitu :

1.    Pacaran, 


ada beberapa tahapan yakni
a. Casual dating
  Pada tahap ini biasanya individu melakukan dating dengan beberapa individu pada saat yang sama (kadang – kadang lebih dari satu dalam satu malam).

b. Regular dating
  Pada tahap ini individu lebih sering melakukan dating hanya pada satu orang saja, dating dengan orang lain mulai berkurang atau sama sekali berhenti.

c. Steady dating


  Pada tahap ini hubungan dating sudah lebih serius dan ditandai dengan adanya komitmen diantara pasangan, yaitu ditandai denagn adanya pemberian suatu symbol komitmen tersebut. Misalnya dengan memberikan cincin atau kalung. Apapun yang diberikan sebenarnya yaitu hanya untuk menandakan atau memberitahukan (signify) orang lain bahwa pasangan datingnya sudah ada yang punya dan hubungan tersebut serius.

d. Engagment
   Pada tahap ini pasangan memberitahukan kepada orang banyak bahwa mereka menikah dan secara tradisional biasanya ditandai dengan cincin berlian atau penggantinya sebagai pasangan tunangan dan pasangan yang akan dinikahi pada masa yang akan dating.

2.    Ada beberapa hal untuk memilih pasangan


  • ·    Ketahui kekurangan pasangan kamu agar kamu dapat memutuskan apakah kamu dapat menerima kekurangan tersebut atau tidak.
  • ·         Beritahu kekurangan kamu kepada pasangan.
  • ·         Bisakah kamu “membuka diri” untuk pasangan kamu?
  • ·         Intropeksi diri atau mencari kesalahan?
  • ·         Mengenal perbedaan pria dan wanita.
  • ·         Mengenal bedanya penasaran, sayang, suka, cinta dan obsesi.

  


  B.   Hubungan dalam perkawinan

  • Seluk beluk hubungan dalam perkawinan

Biasanya salah satu tanda kegagalan dalam perkawinan yaitu perceraian. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Perceraian adalah suatu perpisahan antara suami istri.     

Banyak masalah yang dapat terjadi dalam suatu hubungan keluarga yaitu diantaranya :
Ø  kesulitan dalam ekonomi keluarga yang tidak tercukupi
Ø  perbedaan dalam pemikiran, sifat, prinsip, dan watak
Ø  hubungan antar keluarga yang kurang baik
Ø  adanya wanita idaman lain (WIL) atau pria idaman lain (PIL)
Ø  masalah harta warisan
Ø  kesalahpahaman antara kedua belah pihak

Dari masalah diatas biasanya yang menjadikan alasan seseorang memutuskan untuk mengambil tindakan bercerai yakni kesalahapahaman dan perbedaan dalam prinsip yang terjadi dalam perkawinan. Dari kedua hal tersebut dapat memicu misskomunikasi. Tanpa kesadaran hal tersebut dapat membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun. Komunikasi yang baik dan intern dapat melahirkan sikap saling terbuka dan suasana keluarga yang nyaman. Tuhan pun memerintahkan agar setiap istri mematuhi dan menaati perintah suaminya seperti menaati perintah Tuhan dan suamipun harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri. Namun pada kenyataannya tidak banyak orang yang dapat melakukannya.
Sikap yang tidak peduli antar satu sama lain dan gengsi untuk meminta maaf menjadi berkurang semangat dalam menyelesaikan masalah. Pada akhirnya suami istri mengambil keputusan yang tidak efektif yaitu perceraian. Berdasarkan banyak penelitian di dunia barat (Myers, 2002), terdapat beberapa faktor yang perlu di perhatikan agar cinta tetap ada dalam perkawinan dan perkawinan tetap lestari, yaitu:
1. Orang menikah dalam usia yang matang untuk hidup dalam hubungan suami dan istri.
2. Orang mengalami tumbuh kembang di bawah pengasuhan orang tua yang lengkap.
3. Hubungan yang cukup lama sebelum perkawinan.
4. Orang memiliki pendidikan yang baik.
5. Orang memiliki penghasial yang cukup.
6. Orang tinggal dalam kota kecil.
7. Orang tidak hidup bersama atau hamil belum menikah.
8. Orang memiliki komitmen religus diantara kedua belah pihak.



   C.   Penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan

Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.



  D.   Perceraian dan pernikahan kembali

Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.



Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama. 
Seperti salah satu firman Tuhan yang tidak setuju dengan perceraian dalam Matius 19:4-6
19:4 Jawab Yesus : “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki – laki dan perempuan?
19:5 Dan firman-Nya : Sebab itu laki – laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging
19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia
Jika perceraian itu terjadi, Rasul Paulus menasehatkan “jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya”. Karena bagaimanapun Allah tidak setuju terhadap perceraian (Maleakhi 2:16 ; Matius 19:4-6). Tuhan memperingatkan agar manusia kembali pada fitrahnya, yaitu bahwa sejak semula Allah men-design intuisi perkawinan dengan mempersatukan dua menjadi satu bagian.



   E.   Alternatif selain pernikahan

Hidup sendiri (single life) adalah salah satu pilihan hidup yang ditempuh seorang individu. Hidup sendiri berarti ia sudah memikirkan resiko yang akan timbul sehingga mau tidak mau ia harus siap menanggung segala kerepotan yang muncul dalam perjalanan hidupnya
Faktor-faktor Keinginan Hidup Sendiri :
a) Masalah ideologi atau panggilan agama
b) Trauma perceraian
c) Tidak memperoleh jodoh, misalnya ingin hidup sendiri (menjanda atau menduda dan tidak mau menikah lagi)
Nilai Positif dan Negatif Hidup Sendiri :
    1. Segi Positif Hidup Sendiri
a) Memperoleh nilai kebebasan. Individu merasa dapat menikmati kebebasan melakukan berbagai aktivitas tanpa ada yang mengganggunya.
b) Kemandirian dalam pengambilan keputusan.
    2. Segi Negatif Hidup Sendiri
Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan seksual. Setiap orang yang menginjak masa dewasa muda, baik laki-laki maupun perempuan, tidak dipungkiri memiliki dorongan biologis yang bersifat alamiah. Bila ia hidup sendiri, kemungkinan besar seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual.









Sumber :
Atwater, E. (1993). Psychology of adjustment (2th ed). New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Atwater, E., & Duffy, K. G. (1999). Psychology for living adjustment, growth, and behavior today (6th ed). New Jersey:Prentice Hall, Inc.

Selasa, 28 April 2015

Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal adalah ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.

A. Model – model hubungan interpersonal

1. Model Pertukaran Sosial

   Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya“.

2. Analisis Transaksional (AT). 
  AT dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.



B. Memulai Hubungan

1.     pembentukan kesan
     Menurut sears dkk (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar atas orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Evaluasi : Kesan pertama. Menurut sears dkk (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasikan kesan gabungan tentang orang lain.
        Kesan Menyeluruh untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang orang lain, dapat dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Konsistensi individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya. Prasangka positif (dalam Sears dkk., 1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.


2. ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan

   Dalam memulai  hubungan diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan.
    Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
a) keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b) Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c) Respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).
d) Nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).

   Ada juga faktor yang mempengaruhinya yaitu :
Karakter Pribadi
Kesamaan
Keakraban
Kedekatan



C. Hubungan Peran

   Model peran. Diibaratkan sebagai sandiwara, setiap orang memerankan perannya sesuai dengan aturan yang dibuat dalam suatu kelompok masyarakat. Berkembang dengan baik apabila hubungan interpersonal setiap orang sesuai dengan peranannya.

   Konflik. Adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing. Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok,pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan serta prosedur serta pembagaian jabatan pekerjaan. Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes). Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan dengan komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam.

    
    Adequancy peran & autentisitas dalam hubungan peran

   Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.



D. Intimasi dan hubungan pribadi

     Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
   Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.
     Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tidak pernah menginginkan hal berikut.



E. Intimasi dan pertumbuhan

   Secara harfiah intimasi dapat diartikan sebagai kedekatan atau keakraban dengan orang lain. Intimasi dalam pengertian yang lebih luas telah banyak dikemukan oleh para ahli. Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan. Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. Intimasi menurut Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.







Sumber :

Aronson ,Elliot .(2005).social psychology .upper saddle river :person prentice hall

Jumat, 24 April 2015

Stress


A.    Arti Penting Stres


       Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respon atau tindakan ini termasuk respons fisiologis dan psikologis.



B.     Tipe – Tipe Stres Psikologi


         Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stres psikologis, yaitu :

1.      Frustasi
     Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal / tujuan. Frustasi ada yang bersifat instrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain – lain).

2.      Konflik
     Konflik ditimbulkan karena ketidak mampuan memilih atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian approach –approach conflict, approach – avoidant conflict, avoidant – avoidant conflict.

3.      Tekanan
     Tekanan timbul dari tuntutan sehari – hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu dan tekanan juga berasal dari luar diri individu.

4.      Kecemasan
   Kecemasan merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran / kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.



C.    Symptom – symptom Reducing Responses terhadap Stres

     Setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada. Berikut mekanisme pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk dijadiakan strategi saat menghadapi stress :

1.      Identifikasi
     Identifikasi adalah suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.

2.      Kompensasi
   Seorang individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.

3.      Overcompensation / Reaction Formation
    Perilaku individu yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.

4.      Sublimasi
  Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.

5.      Proyeksi
   Proyeksi adalah mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.

6.      Introyeksi
    Introyeksi adalah memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.

7.      Reaksi Konversi
  Secara singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalkan belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat dan berkeringat.

8.      Represi
   Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.

9.      Supresi
  Supresi yaitu menekan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”

10.  Denial
  Denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.

11.  Regresi
   Regresi adalah mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.

12.  Fantasi
  Fantasi adalah apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang yang ia cintai.

13.  Negativisme
  Negativisme Adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya dengan bolos sekolah.

14.  Sikap Mengkritik Orang Lain
  Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.




D.    Pendekatan – pendekatan Problem Solving terhadap Stres

   Dukungan sosial sebagai ‘kognisi’ atau ‘fakta sosial’ : “Dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan/atau non-verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerimaan”(Gottlieb, 1983).

Jenis dukungan sosial :
a.      Dukungan Emosional 
b.      Dukungan Penghargaan
c.      Dukungan Instrumental

d.      Dukungan Informatif





Sumber :
Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Kanisius : Jakarta.

Jumat, 10 April 2015

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan Personal

A.      Penyesuaian Diri

Pengertian
      Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamik yang hampir selalu membutuhkan perubahan dan adaptasi, dan dengan demikian semakin tetap dan tidak merubah respon - respon itu, maka semakin sulit juga menangani tuntutan-tuntutan yang berubah. Dalam istilah psikologi, penyesuaian disebut dengan istilah adjusment. Adjustment merupakan suatu hubungan yang harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial (Chaplin, 2000: 11). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya, sehingga akan berdampak baik dalam pertumbuhan personalnya.


      Ada beberapa ciri penyesuaian diri yang efektif, seperti :

·         Mempunyai kemapuan Relasi Interpersonal yang baik
·         Memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tekanan atau stres dan kecemasan
·         Mempunyai Gambaran Diri yang Positif tentang dirinya

Manusia atau Individu yang memenuhi ciri-ciri tersebut dapat digolongkan sebagai individu yang memiliki kesehatan mental yang baik.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri
·         Penyesuaian Pribadi
·         Penyesuaian Sosial

·         Faktor yang mempegaruhi penyesuaian diri, ada dari faktor lingkungan keluarga dan lingkungan teman sebaya.





      B.      Pertumbuhan Personal



Pengertian
       Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses-proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang normal.
Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
a.       Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
b.      Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali
c.       Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

      Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan personal :

1.      Faktor Biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2.      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3.      Faktor Budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.

Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

       Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenesis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang dari berdiferensasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian – bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

Variasi dalam Pertumbuhan

       Dalam variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik, maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.

Kondisi – kondisi Untuk Pertumbuhan

       Kondisi jasmani  seperti pembawa atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi jasmani dan kondisi pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana individu dapat menyesuaikan diri nya.

Fenomenologi  Pertumbuhan

       Fenomenologi memandangmanusia hidup dalam dunia kehidupan yang dipersepsikan dan diintepretasi secara subjektif. Setiap individu mengalami dunia dengan caranya sendiri. Alam pengalaman setiap individu berbeda dari alam pengalaman orang lain. Bouwer, 1983 : 14 menyatakan bahwa fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Roger yang biasa disebut sebagai Bapak Psikologi Humanistik.







Sumber :
  Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Kanisius : Jakarta.

Senin, 06 April 2015

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT FROMM

Pengertian dasar teori Fromm berpendapat bahwa kita tidak hanya dipengaruhi dan dibentuk oleh kekuatan naluri biologis kita, seperti yang dikemukakan oleh Fromm. Oleh karena itu, Fromm mengemukakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya . Penekanan Fromm pada faktor sosial dari kepribadian lebih luas daripada Adler dan Horney. Kita bisa katakan bahwa Fromm mencakup pandangan yang lebih luas pada perkembangan kepribadian daripada teori–teori lainnya, hal ini disebabkan oleh mengutamakan aspek sejarah. Fromm meyakini bahwa konflik pribadi yang kita alami berasal dari masyarakat yang kita bangun bersama. Fromm juga optimis mengenai kemampuan kita untuk mengembangkan karakter kita dan menyelesaikan masalah kita sendiri – masalah yang diciptakan oleh masyarakat kita. Kita tidak saja menerima imbas dari pengaruh sosial sebagai penentu dari kepribadian kita dan masyarakat. 


Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif , yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.


Menurut Fromm, ciri-ciri kepribadian sehat sebagai berikut:
a.       Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat.
b.      Mampu mencintai dan dicintai.
c.       Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
d.      Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
e.       Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
f.       Memiliki watak sosial yang produktif.


sumber :
Schultz, D., 1983, Psikologi Pertumbuhan, Model-Model kepribadian yang Sehat, Kanisius, Yogyakarta
Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2010. Teori Kepribadian (Theories of Personality). Jakarta : Salemba Humanika.